“PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI JAJARGENJANG KELAS VII SMP”





Disusun Oleh :
Agus                                   (ACA 115 014)
Satri Jaya Wiyono            (ACA 115 028)
Mahjunianur                     (ACA 115 034)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA 
TAHUN 2017





LEMBAR PERSETUJUAN


Judul
:
Penerapan Model pembelajaran Problem Based Learning pada materi Jajargenjang kelas VII SMP

Kelompok IV
:
Satri Jaya Wiyono
Mahjunianur
Agus

ACA 111 028
ACA 111 034
ACA 111 014



Makalah ini telah diperiksa dan disetujui untuk diseminarkan


Palangka Raya, 12 November 2017 
Pembimbing,



Dra. Syahrianah Syahran, M.Pd
NIP. 19541122 198303 2 001

 

 

 

 



KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kami panjatkan kehariat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya yang telah memberi umur panjang, badan yang sehat sehingga makalah yang membahas tentang “Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi Jajargenjang kelas VII SMP” dapat terselesaikan dalam tugas mata kuliah Seminar Problematika Matematika.
Penulis sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, jadi kritik dan saran dosen dan teman-teman sekalian sangatlah berguna dan semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua dan juga untuk menambah wawasan serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari amin.


Palangka Raya, 11 November  2017



Penulis


DAFTAR ISI

 


JUDUL.. i
LEMBAR PERSETUJU..............................................................…………...…….ii
KATA PENGANTAR.. ..............................................................................................iii
DAFTAR ISI. ............................................................................................................iv
BAB I  PENDAHULUAN.. 1
1.1      Latar Belakang 1
1.2      Rumusan Masalah. 3
1.3      Tujuan. 3
1.4      Manfaat 4
BAB II  KAJIAN TEORI. 5
2.1         Pengetian Problem Based Learning…......……………………………….5
2.2         Karakteristik Problem Based Learning……………………….…………6
2.3         Beberapa Teori Yang Melandasi Problem Based  Learning………..….. 8
2.4         Langkah-langkah Pembelajaran Problem Based Learning……………. .9
2.5          Penelitian yang Relevan …………………………………………….....14
BAB III  PENUTUP. ................................................................................................16
3.1      Kesimpulan. ...................................................................................................16
3.2      Saran. ............................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………17
LAMPIRAN……………………………………………………………………..18


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang sangat tidak asing bagi siswa karena semua jenjang pendidikan telah mempelajari matematika. Namun, kebanyakan siswa menganggap mata pelajaran matematika itu sangat sulit, sehingga mereka tidak bersemangat bahkan kadang-kadang takut menghadapi pelajaran matematika. Untuk itu, dibutuhkan kreatifitas guru dalam mengemas pembelajaran matematika agar menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa.
Matematika adalah salah satu disiplin ilmu yang bersifat uviversal dan terus berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Matematika sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari untuk menumbuhkan sikap dan mengembangkan daya pikir sistematis, kritis, analisis, logis dan kreatif.Menurut Ruseffendi (1992), matematika adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan.
          Matematika merupakan pelajaran yang dapat menumbuhkan cara berpikir logis, sistematis, kritis dan rasional. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan siswa, guru telah melakukan berbagai upaya dengan harapan siswa memperoleh hasil belajar yang baik. Kenyataannya, hasil belajar siswa di sekolah masih belum sesuai dengan yang diharapkan.
Ketidaktepatan penggunaan model pembelajaran matematika dapat menghambat pencapaian hasil belajar matematika. Faktor lain penyebab rendahnya minat siswa untuk belajar matematika adalah lingkungan, kelas yang tidak kondusif dapat menghambat proses pembelajaran matematika. Guru kurang mampu mengkondisikan kelas, sehingga siswa membicarakan hal lain di luar topik pelajaran yang disampaikan oleh guru, lingkungan yang gaduh membuat pembelajaran kurang efektif dan efisien. Hal tersebut berdampak terhadap hasil belajar matematika yang tidak optimal. Proses pembelajaran khususnya pembelajaran matematika akan lebih efektif dan bermakna apabila siswa berpartisipasi aktif.
Pembelajaran dikatakan baik apabila seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran tersebut saling mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran tersebut antara lain guru, model, metode, sarana dan prasarana. Keberhasilan belajar matematika siswa tidak terlepas dari kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kualitas pengajaran yang dilakukan pengajaran yang dimaksud adalah efektif tidaknya proses pembelajaran. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila siswa terlibat secara aktif menemukan dan membangun serta mengembangkan sendiri pengetahuan yang dimilikinya. Dengan kata lain siswa secara aktif dilibatkan dalam mengorganisasikan dan menemukan sendiri hubungan informasi yang diperoleh.
Pembelajaran Matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah atau mengajukan masalah riil atau nyata, yaitu pembelajaran yang mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa, kemudian siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep Matematika dengan melibatkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Ketika siswa belajar matematika, maka yang dipelajari adalah penerapan matematika yang dekat dengan kehidupan siswa. Situasi pembelajaran sebaiknya dapat menyajikan fenomena dunia nyata, masalah yang autentik dan bermakna, dapat menantang siswa untuk memecahkannya. Guru harus dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkannya dalam kehidupan nyata. Guru yang baik dan bijaksana mampu menggunakan model pembelajaran yang berkaitan dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Salah satu model pembelajaran yang diterapkan adalah pengajaran berdasarkan masalah atau Problem Based Learning (PBL).
Menurut Tan (dalam Rusman, 2012:229) Model PBL (Problem Based Learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBL kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan. Beberapa masalah dalam dunia nyata yaitu tentang pengukuran seperti menghitung luas rumah, menghitung jumlah teman, tinggi badan, berat badan, pecahan, operasi bilangan, dan penggunaan uang dalam kehidupan sehari-hari.
Materi jajargenjang  merupakan suatu materi yang sangat dekat dengan kehidupan nyata. Banyak peristiwa yang kita jumpai sehari-hari menggunakan pengukuran luas bidang. Sebagai contoh, menghitung suatu ruangan, halaman, dan lain-lain merupakan penerapan dari materi jajargenjang. Dengan demikian, materi jajargenjang sesuai apabila dalam penyampaiannya menggunakan model Problem Based Learning (PBL).
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, penulis merumuskan masalah pokok dalam penelitian ini yaitu “Penerapan Model Problem Based Learning pada materi Jajargenjang kelas VII SMP”
           

1.2  Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dipaparkan,Rumusan masalah adalah : “Bagaimana penerapan model pembelajaran problem based learning pada materi jajargenjang kelas VII SMP ?”

1.3  Tujuan

Berdasarakan Rumusan masalah, makalah ini bertujuan : “Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran problem based learning pada materi jajargenjang kelas VII SMP ?”




1.4  Manfaat

1.    Bagi Guru
1        Melalui penelitian ini guru dapat memilih metode pembelajaran yang tepat untuk siswanya dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif serta dapat memberikan variasi dalam teknik bahkan cara pengajaran matematika.
2        Dengan penelitian ini pula dapat memberikan gambaran mengenai penerapan kontekstual dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran matematika di sekolah.
3        Dengan membiasakan siswa belajar menggunakan model pembelajaran yang baik, maka akan meningkatkan hasil belajar siswa tersebut semaksimal mungkin.
2.    Bagi Siswa
Dengan menggunaan model pembelajaran problem based learning diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan pemahaman belajar, meningkatkan keaktifan dan kemampuan berpikir kreatif serta berpotensi mengembangkan hasil belajar. Siswa pun semakin termotivasi untuk belajar karena partisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan suasana pembelajaran semakin variatif dan tidak monoton.

 

 

 

 

 

 

 


BAB II 
KAJIAN TEORI


2.1   Pengertian Model Problem Based Learning

Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan pada kurikulum 2013, Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan kegiatan atau proses belajar mengajar dengan menggunakan atau memunculkan masalah dunia nyata sebagai bahan untuk proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah untuk memperolehkan pengetahuan dari suatu sistem pelajaran.
Menurut Cahyo (2013:283) pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Learning/PBL) adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisi dan integrasi pengetahuan baru.
Menurut Abdul (2014:162) pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata.  
Menurut Ibrahim dan Nur dalam Cahyo, (2013: 283), model pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran penemuan (inkuiri discovery) yang lebih menekankan pada masalah akademik. Dalam pembelajaran berbasis, pemecahan masalah didefinisikan sebagai proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyelesaian tugas atau situasi yang benar-benar nyata sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui.
Jadi, kesimpulannya penggunaan model Problem Based Learning (PBL) juga disebut Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah proses pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa, dimana siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran sebagai sesuatu yang harus dipelajari oleh siswa untuk melatih keterampilan berpikir kritis, proses belajar dengan mengeluarkan kemampuan peserta didik dengan betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga peserta didik dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan yang beorientasi pada masalah dunia nyata. Karena perkembangan intelektual peserta didik terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang serta ketika mereka berusaha memecahkan masalah yang dimunculkan.

2.2   Karakteristik Problem Based Learning

Penggunaan model pembelajaran di dalam kelas, menuntut guru untuk memahami keadaan siswa sepenuhnya, guru harus peka terhadap masalah yang dihadapi siswa tersebut. 
Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda menurut Rizema Putra dalam Sitiatava (2013:72 ) Problem Based Learning memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.        Belajar dimulai dengan satu masalah
2.        Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan masalah dunia nyata siswa
3.        Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan disiplin ilmu
4.        Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalm membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar.
5.        Menggunakan kelompok kecil
6.        Menuntut siswa untuk mendemontrasikan yang telah dipelajari dalam bentuk produk dan kinerja.
      Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dimulai dengan adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang sesuatu yang telah diketahuinya sekaligus yang perlu diketahuinya untuk memecahkan masalah tersebut.
Di samping memiliki karakteristik seperti disebutkan di atas, strategi belajar berbasis masalah  juga harus dilakukan dengan tahap-tahap tertentu. Menurut Forganty dalam Septiana, (2013: 32), tahap-tahap strategi belajar Problem Based Learning yaitu:
a.              Menemukan masalah,
b.              Mengidefinisikan masalah,
c.              Mengumpulkan fakta ,
d.             Menyusun hipotesis (dugaan sementara),
e.              Melakukan penyelidikan,
f.               Menyempurnakan permasalahan yang telah didefinisikan,
g.              Menyimpulkan alternatif pemecahan secara kolaboratif, dan
h.              Melakukan pengujian hasil (solusi) pemecahan masalah.
Jadi strategi belajar berbasis masalah mempunyai tahap-tahap dalam proses pembelajarannnya mulai dari siswa menemukan masalah, mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data sampai ke tahap akhir yaitu siswa menemukan hasil atau solusi dari masalah tersebut.
Selain ada tahap-tahap strategi belajar berbasis masalah, Menurut setiatava (2013:69) Problem Based Learning ini mempunyai banyak variasi diantaranya ialah sebagai berikut:
a.         Permasalahan sebagai pemandu; masalah menjadi acuan konkret yang harus menjadi perhatian siswa. Maksudnya masalah menjadi kerangka berpikir siswa dalam mengerjakan tugas
b.        Permasalahan sebagai kesatuandan alat evaluasi; masalah diberikan setelah tugas-tugas dan penjelasan diberikan. Tujuanya ialah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuannyaguna memecahkan masalah
c.         Permasalahan sebagai contoh; masalah dijadikan sebagai contoh dan bagian dari bahan ajar. Maksudnya masalahpun bisa digunakan untuk menggambarkan teori serta konsep atau prinsip, yang dibahas antara siswa dan guru.
d.        Permasalahan sebagai fasilitas proses belajar; masalah dijadikan sebagi alat untuk melatih siswa, yang dibahas antar siswa dan guru.
e.         Permasalahan sebagai stimulus belajar; masalah bisa merangsang siswa untuk mengembangkan keterampilan mengumpulkan dan mengalisis data yang berkaitan dengan masalah dan keterampilan meta kognitif.
Jadi kesimpulan yang dapat saya ambil dari banyaknya variasi model PBL adalah suatu masalah yang diberikan kepada siswa, masalah itu harus  menjadi pusat perhatian siswa, masalah juga diberikan setelah tugas –tugas dan penjelasan yang diberikan, masalah yang diberikan juga sebagai bagian dari bahan ajar, masalah yang diberikan sebagai alat untuk melatih untuk belajar dalam memecahkan masalah dan masalah yang diberikan kepada siswa dapat mengembangkan keterampilan dalam mengumpulkan dan menganalisis data.

2.3    Beberapa teori  yang melandasi Problem Based Learning
Ada beberapa teori yang melandasi model Problem Based Learning menurut Sitiatava (2013:76) teori yang melandasi Problem based Learning, diantaranya ialah sebagi berikut:
a.    Teori Dewey dalam Kelas Demokratis
Sekolah harusnya mencerminkan mayarakat yang lebih besar, dan kelas merupakn laboratorium untuk memecahkan masalah yang nyata. Dewey menganjurkan agar pembelajaran disekolah lebih bermanfaat.
b.    Pendapat Piagget dan Vygotsky dalam teori kontruktivisme
Piagget dan Vygotsky adalah tokoh penggembang konsep kontruktivisme yang didasarkan pada teori kognitif piagget. Pandangan kontruktivisme kognitif mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan sendiri.


c.    Pendapat brunner dalam teori pembelajaran penemuan
Menurut brunner, pembelajaran menekankan penalaran induktif dan proses inquiri. Dalam toei ini dikenal adanya scaffolding sebagai suatu proses saat seseorang siswa dibantu oleh seorang guru atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih dalam menuntakan masalah tetentu, sehingga dapat melampaui kapasitas perkembangannya.

Dari ketiga teori yang melandasi Problem based Learning semua pendapat tersebut mendukung model Problem Based Learning, karena teori itu menekankan bahwa dalam pembelajaran siswa dituntut memperoleh pengetahuan sendiri. Pengetahuan dipeoleh dengan mencari informasi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran.

2.4    Langkah-langkah  Pembelajaran Problem Based Learning
Penggunaan model Problem Based Learning memiliki langkah-langkah dalam proses pembelajarannya di dalam kelas, berikut beberapa langkah-langkah pembelajaran Problem Based Learning.
Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Jauhar dalam Septiana, (2013:38) langkah-langkah pembelajaran Problem Based Learning sebagai berikut:
a.     Tahap 1: orientasi peserta didik pada masalah
Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, memotivasi peserta didik untuk terlibat secara aktif pada aktivitas pemecahan masalah yang diberikan.
b.    Tahap 2: mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
Pada tahap ini guru membantu peserta didik dalam mengartikan dan mengorganisasikan tugas yang berhubungan dengan masalah tersebut, guru menyampaikan informasi-informasi kepada peserta didik untuk menambah pengetahuan dasar peserta didik mengenai masalah yang akan ditelusuri.


c.     Tahap 3: membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Pada tahap ini guru membimbing peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan masalah yang dibahas, menyaring informasi dan mengolahnya untuk mendapatkan penjelasan dalam pemecahan masalah.
d.    Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan karya
Pada tahap ini guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan mempersiapkan penyajian karya yang nantinya akan dipersembahkan bersama teman sekelompoknya di depan kelas.
e.     Tahap 5: menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Pada tahap terakhir ini, guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi  atau perbaikan sebagai bahan evaluasi terhadap penyelidikan mereka pada masalah dan membantu dalam proses-proses  yang mereka gunakan  dalam mencari suatu solusi dalam memecahkan masalah
Ibrahim dan Nur dalam Septiana, (2013: 41) mengemukakan bahwa langkah-langkah Pembelajaran Problem based Learning adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Langkah-langkah Pembelajaran Problem based Learning
Fase
Indikator
Tingkah Laku Guru
1.
Orientasi peserta didik pada masalah
Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi peserta didik terlihat pada aktivitas pemecahan masalah dalam materi  jajargenjang.
2.
Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
Membantu peserta didik mendefinisikan mengenai jajargenjang dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
3.
Membimbing pengalaman individual/kelompok
Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah dalam materi jajargenjang
4.
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
5.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan

      Jadi kesimpulan dari langkah-langkah pembelajaran Problem Based Learning  terdapat  5 tahapan untuk tahapan pertama proses pembelajarannya dimulai dari menjelaskan tujuan dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan, kemudian untuk tahap kedua  guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda, pada tahap ketiga guru mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen,pada tahap keempat siswa memamerkan hasil karyanya dan pada tahap yang kelima siswa mengevaluasi hasil belajar dengan mempresentasikan hasil belajar.

a        Evaluasi dalam Pembelajaran Problem based Learning
              Problem Based Learning memiliki Evaluasi dalam proses pembelajarannya Menurut Nursalam dan Ferry dalam Sitiatava (2013: 81) tidak selamanya proses belajar model Pembelajaran Problem based Learning berjalan secara lancar. Ada beberapa hambatan yang dapat muncul. Hambatan yang sering terjadi adalah kurang terbiasanya siswa dan guru dengan model ini. Faktor penghambat lainnya adalah kurangnya waktu. Proses Pembelajaran Problem based Learning terkadang membutuhkan waktu yang lebih banyak.
              Pembelajaran yang berorientasi pada proses, terdapat dua komponem pokok yang perlu diperhatikan dalam proses evaluasi, Menurut nursalam dan ferry (2008) dalam Sitiatava (2013: 81), yakni :
a.         Pengetahuan yang diperoleh siswa (siswa diharapkan mendapatkan pengetahuan lebih setelah melalui proses belajar)
b.        Proses belajar yang dilakukan oleh siswa (siswa diharapkan menggunakan pendekatan belajar deep learning, yaitu melakukan proses belajar yang aktif, mandiri, dan tanggung jawab
       Jadi proses evaluasi dalam model Problem Based Learning pengetahuan yang diperoleh siswa melalui proses belajar, proses belajar yang lakukan menggunakan pendekatan deep learning, yaitu proses belajar yang aktif, mandiri, dan tanggung jawab.

b        Kelebihan dan kekurangan model Problem based Learning
Kelebihan Pembelajaran Problem based Learning
Penggunaan model pembelajaran memiliki beberapa kelebihan sehingga guru bisa menggunakan model Probem Based Learning dalam proses pembelajaran di dalam kelas
Menurut Sitiatava, (2013:82)  Problem Based Leraning (PBL) memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan , di antaranya:
1)        Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan lantaran ia menemukan konsep tersebut.
2)        Melibatkan siswa secara aktif dalam memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir kriti siswa yang lebih tinggi.
3)        Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki oleh siswa,sehingga pembelajaran lebih bermakana.
4)        Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran, karena masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupannyata.
5)        Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu member aspirasi dan menerima pendapat oaring lain, serta menanmkan sikap sosial yang positif dengan siswa lainnya.
6)        Pengondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berintegrasi  terhadap pembelajar dan temannya, sehingga pencapaian ketuntasan belajar siswa dapat diharapkan.
7)        Pembelajaran Problem based Learning di yakini pula dapat menumbuhkembangkan kemampuan kreativita siswa, baik secara individual maupun kelompok, karena hampir disetiap langkah menuntut adanya keaktifan siswa.
Kekurangan Pembelajaran Problem based Learning
Selain memiliki kelebihan model pembelajaran Problem Based Learning juga memiliki beberapa kekurangan dalam proses pembelajarannya. Munurut Rizema Putra dalam Setiatava (2013:84) model pembelajaran Problem Based Learning juga memiliki kekurangan, yakni: 
1)                  Bagi siswa yang malas, tujuan metode tersebut tidak dapat tercapai
2)                  Membutuhkan banyak waktu dan dana
3)                  Tidak semua mata pelajaran bisa diterapkan dengan metode
Pembelajaran Problem based Learning
Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran terutama menggunakan model Pembelajaran Problem based Learning terdapat keunggulan terutama dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, peserta didik dapat memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir peserta didik yang lebih tinggi, karena masalah- masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, peserta didik lebih mandiri, serta peserta didik belajar bersosialisasi dengan teman kelompok dengan cara kerja tim.
Adapun kelemahan dari model Pembelajaran Problem based Learning yaitu peserta didik dituntut aktif untuk mencari sumber-sumber belajar, karena dalam pembelajaran ini yang lebih banyak berperan aktif yaiu peserta didik (student centered). Dalam model Pembelajaran Problem based Learning ini tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan.

2.5 Penelitian Yang Relevan
1.    Hery Setiawan (1 januari 2017), meneliti pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian quasi experimental dengan desain nonequivalent control group design. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi jajargenjang kelas VII smp meningkat. Hal tersebut terlihat berdasarkan perhitungan diketahui bahwa pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap hasil belajar mata pelajaran matematika materi jajargenjang pada siswa kelas eksperimen sebesar 60,72%.
2.    Miranda, Nova. (2016).meneliti pembelajaran matematika dengan menerapkan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif Hasil penelitian menunjukkan kemampuan pemecahan masalah pada materi bangun datar oleh siswa kelas VII SMPN 2 Montasik melalui penerapan model Problem Based Learning dapat diketahui bahwa siswa tinggi sekali dalam memahami masalah dengan persentase 93%, kemampuan siswa dalam merencanakan masalah dikatakan juga tinggi sekali dengan perolehan persentase 83%, kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah berada pada kategori tinggi dengan persentase 77%, dan kemampuan siswa dalam menafsirkan solusi juga berada pada kategori tinggi dengan persentase 75%. Hal ini menunjukkan bahwa semua aspek kemampuan pemecahan masalah yang dinilai berada pada kategori tinggi sekali dan tinggi, tidak ada aspek yang berada pada kategori sedang, rendah dan rendah sekali.
3.    Masyithah (2016). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa melalui model Problem Based Learning (PBL). Hasil belajar siswa yang didapat dengan model Problem Based Learning (PBL) diperbandingkan terhadap nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pelajaran matematika di sekolah tersebut, yaitu sebesar 70. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, sedangkan jenis penelitian adalah eksperimen. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam materi bangun ruang sisi datar di kelas VIII SMP Negeri 8 Banda Aceh melebihi nilai KKM. Proses pembelajaran berlangsung dengan semangat. Siswa mampu mengerjakan LKS dan soal evaluasi dengan baik dimana guru berperan dalam mengontrol, membimbing serta menyesuaikan terhadap kondisi siswa dan kendala yang mungkin muncul selama proses pembelajaran.
Berdasarkan dari ketiga penelitian(Miranda, Nova, Hery Setiawan, Masyithah) mengenai penerapan model pembelajaran problem based learning, terdapat peningkatan yang signifikan dibagian hasil belajar siswa, kreatifitas siswa dan keaktifan siswa didalam ruang kelas.

BAB III 
PENUTUP


3.1  Kesimpulan

Penerapan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning pada materi Jajargenjang kelas VII SMP dapat meningkatkan hasil belajar siswa,meningkatkan kreatifitas siswa dan mampu meningkatkan keaktifan siswa didalam kelas .

3.2  Saran

1.      Bagi Mahasiswa
Diharapkan makalah ini menjadi referensi bacaan untuk menambah pengetahuan mengenai Problem Based Learning.
2.      Bagi Pendidik
Diharapkan makalah ini menjadi referensi dan menambah pengetahuan mengnai model pembelajaran Problem Based Learning sehingga dapat menjadi acuan dalam menggunakan model-model yang sesuai dengan materi.





DAFTAR PUSTAKA

Cahyo. A. (2013). Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Jojakarta: Diva Press
Masyithah. 2016. Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) dalam Materi Bangun Ruang Sisi Datar di kelas VIII SMP Negeri 8 Banda Aceh Tahun Pelajaran 2015/2016.aceh . [repo.iain-aceh.ac.id/314/3/SKRIPSI%20S AYA.pdf. Di akses 07 Oktober 2017]
Miranda, Nova. 2016. Kemampuan Pemecahan Masalah pada Materi Bangun Datar oleh Siswa Kelas VII SMPN 2 Montasik Melalui Penerapan Problem Based Learning. Banda Aceh . Di akses 07 Oktober 2017.[repository.upi.edu/6542/4/S_PMIPA_09 05311_Chapter1.pdf]
Putra R, Sitiatava. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Jogjakarta: Diva Press
Ruseffendi, E.T. (2006). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Rusman.  2012.  Model-Model  Pembelajaran.Depok: PT Raja grafindo Persada.
Septiana, Y. (2013). Penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Dalam Pembelajaran IPS Pada Topik Masalah Sosial Di Kelas IV. Skripsi pada FKIP PGSD UNPAS Bandung: Tidak Diterbitkan












Download File





Archive

Popular Posts

Youtube

Pengikut